""Nama-nama Nabi""

Nabi Adam as. Nabi Idris as. Nabi Nuh as. Nabi Huud as. Nabi Shaleh as. Nabi Ibrahim as. Nabi Ismail as. Nabi Luth as. Nabi Ishaq as. Nabi Ya’qub as. Nabi Yusuf as. Nabi Syu’aib as. Nabi Ayyub as. Nabi Dzulkifli as. Nabi Musa as. Nabi Harun as. Nabi Daud as. Nabi Sulaiman as. Nabi Ilyas as. Nabi Ilyasa as. Nabi Yunus as. Nabi Zakaria as. Nabi Yahya as. Nabi Isa as. Nabi Muhammad saw.

Rabu, 17 Agustus 2016

Wali Allah dan Buktinya

Tentang kedudukan para wali sebagai waliyullah, Allah swt tidak memberi tanda atau bukti yang menunjukkan mereka itu wali Allah. Artinya, tidak ada orang yang mengetahui bahwasanya seseorang itu wali. Waliyullah itu pun tidak memberi tanda kepada dirinya sendiri yang dapat menunjukkan bahwa ia telah menjadi wali. Tidak pula seorang pun yang dapat menunjukkan ciri-ciri bahwa seseorang itu wali. Jikalau ada orang yang mengenal seseorag itu wali, maka hal itu sangat luar biasa. Merupakan suatu keistimewaan yang dianugerahkan Allah untuknya. Hanya orang yang memiliki ma’rifat yang sudah tinggi sajalah yang mampu mengetahui hal itu, itupun tidak semua. Karena hanya wali sajalah yang mengetahui seseorang itu wali. 
 سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَجْعَلِِ الدَّلِيْلَ عَلَى اَوْلِيَآئِهِ اِلاَّ مِنْ حَيْثُ الدَّلِيْلُ عَلَيْهِ وَ لَمْ يُوْصِلْ اِلَيْهِمْ اِلاَّ مَنْ اَرَادَ اَنْ يُوَصِّلَهُ اِلَيْهِ٠ 
“Maha Suci Allah yang tidak menjadikan dalil (bukti), bagi para wali-Nya, kecuali sebagai tanda pengenalan dengannya. Tidak akan sampai kepada mereka, kecuali orang yang dikehendaki akan menyampaikannya kepada Allah.” 
Akan tetapi perlu diingat, mengenal wali itu , seperti dikatakan oleh Syekh Abul Abbas Al Mursy, sangat sukar. Lebih mudah mengenal Allah daripada mengenal wali, karena mengenal Allah itu dapat diketahui dari sifat-sitat-Nya, dan bekas ciptaan-Nya. Sedangkan sukarnya mengenal wali, disebabkan ia adalah manusia bersama kita, makan minum, tidur, belajar, beribadah, tidak beda dengan manusia lainnya. Mereka juga sering susah dan menderita, atau bisa juga senang dan gembira. 
Waliyullah atau wali Allah itu adalah hamba Allah yang memperoleh nurullah. Para Wali itu fana dalam dirinya, akan tetapi tetap baqa dalam musyahadah dengan Allah. Wali menerima cahaya Allah, tidak dengan sendirinya. Ia pun melatih dirinya tahap demi tahap, sehingga ia tiba pada maqam (tingkat) kesempurnaan makrifat. Kemakrifatannya kepada Allah yang sangat dekat, karena taqarrub-Nya tidak ada henti-hentinya, membuat ia menjadi kekasih Allah (Waliyullah). 
Perlu dipahami dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya bagi setiap mukmin yang selalu patuh kepada perintah dan larangan Allah, serta menjalankan ibadah dengan tertib dan penuh keikhlasan, mereka selalu dijaga dan mendapat perlindungan Allah. Karena Allah itu adalah wali dari orang mukmin. 
Allah swt. mengingatkan para mukminin, "
Allah adalah wali Orang beriman. Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Adapun orang yang kafir, wali mereka itu adalah taghut (berhala) yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan, mereka menjadi penghuni neraka dan kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 257)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar