""Nama-nama Nabi""

Nabi Adam as. Nabi Idris as. Nabi Nuh as. Nabi Huud as. Nabi Shaleh as. Nabi Ibrahim as. Nabi Ismail as. Nabi Luth as. Nabi Ishaq as. Nabi Ya’qub as. Nabi Yusuf as. Nabi Syu’aib as. Nabi Ayyub as. Nabi Dzulkifli as. Nabi Musa as. Nabi Harun as. Nabi Daud as. Nabi Sulaiman as. Nabi Ilyas as. Nabi Ilyasa as. Nabi Yunus as. Nabi Zakaria as. Nabi Yahya as. Nabi Isa as. Nabi Muhammad saw.

Sabtu, 13 Agustus 2016

Butanya Hati Seseorang Karena Maksiat

Termasuk dampak buruk maksiat adalah dapat membutakan hati. Andai tidak membutakannya, maksiat bisa melemahkan nata hati. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa maksiat dapat nelemahkan pandangan hati. 
Sudah barang tentu, jika hati telah buta atau lemah undangannya, ia akan sulit untuk mengenali petunjuk. Kekuatannya untuk melaksanakan petunjuk tergantung dengan seberapa ajam pandangannya. 
Dua hal pokok yang menentukan kesempurnaan manusia idalah pengetahuannya tentang yang benar dan yang batil, serta sikapnya dalam mengutamakan yang benar. Tidak ada yang nembedakan kedudukan makhluk di sisi Allah Swt. di dunia dan ikhirat kecuali dua perkara itu. Allah memuji para nabi-Nya atas lua perkara tersebut: 
"Dan, ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, lshaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi(Shad [38] : 45). 
Yang dimaksud dengan perbuatan besar adalah kekuatan dalam menjalankan yang benar. Adapun pengetahuan yang tinggi adalah pengetahuan dalam agama. Allah menggambarkan mereka dengan kesempurnaan dalam menangkap dan menjalankan kebenaran. Dalam hal ini, manusia terbagi menjadi empat tingkatan. 
Golongan para nabi adalah golongan termulia dari seluruh makhluk. 
Golongan kedua adalah yang sebaliknya, yakni mereka yang tidak berpengetahuan dalam hal agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan yang benar. Mereka adalah yang paling banyak di antara manusia. Mereka adalah orang-orang yang jika dilihat, merusak mata, menutup jiwa, menyakitkan hati, menyempitkan dunia, menyulitkan harga, dan tidak ada yang bergaul dengan mereka kecuali orang-orang hina dan tercela. 
Golongan yang ketiga adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang petunjuk serta mengenalinya, namun lemah dan tak berdaya untuk menjalankan dan mengajak kepada petunjuk yang benar. Seperti inilah kondisi orang mukmin yang lemah, padahal orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. 
Golongan keempat adalah orang yang mempunyai kekuatan, tekad, dan niat, tetapi lemah pengetahuannya dalam agama sehingga ia tidak bisa membedakan antara wali Allah dan wali setan. Mereka menganggap setiap yang hitam itu kurma, setiap yang putih itu lemak, penyakit tumor itu gemuk, dan obat manjur itu racun. Tidak ada di antara mereka yang pantas menjadi pemimpin agama. Sedangkan, yang layak menjadi pemimpin agama hanyalah golongan pertama. 
Allah Swt. berfirman:
"Dari, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.( As-Sajdah [32] :24)'' 
Allah memberitahukan bahwa sesungguhnya, mereka men¬dapat kedudukan sebagai pemimpin agama karena kesabaran dan keyakinan. Mereka adalah golongan orang-orang yang dikecualikan oleh-Nya dari golongan orang-orang yang merugi. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang merugi. Allah Swt. berfirman: 
"Demi masa, sesungguhnya, manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan yang saling menasihati untuk menaati kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran (Al-Ashr [103] : 1-3)." 
Mereka tidak cukup hanya mengetahui kebenaran dan bersabar atasnya, namun mereka juga saling menasihati, menunjukkan, dan mendorong kepada kebenaran satu sama lain. Jika selain dari golongan mereka termasuk orang-orang yang merugi, tentu karena maksiat dan dosa-dosa telah membutakan mata hati dan melemahkan ketajamannya sehingga ia tidak mampu menangkap kebenaran sebagaimana mestinya dan juga tidak sanggup untuk bersabar dalam kebenaran. 
Terkadang kebenaran itu selalu datang dalam hati, namun sering kali dipahami secara terbalik sehingga yang batil dianggap sebagai kebenaran, yang benar dianggap sebagai kebatilan, dan yang baik dianggap sebagai yang mungkar,yang mungkardianggap sebagai yang "baik. Hati menjadi terbalik fungsinya sehingga ia kembali dari perjalanannya kepada Allah dan akhirat menuju nafsu batil yang senang dengan kehidupan dunia, lalai terhadap- Nya dan ayat-ayat-Nya, serta meninggalkan persiapannya untuk bertemu dengan-Nya. Sebenarnya, ini semua sudah cukup menjadi hukuman atas dosa-dosa hingga menjauhinya. 
Sebaliknya, ketaatan dapat menerangi, mencerahkan, menghaluskan, menguatkan, dan memantapkan hati sehingga ia menjadi seperti cermin yang sangat bening dan cemerlang dipenuhi dengan cahaya. Bila setan akan masuk ke dalam hati, ia akan terkena cahayanya seperti jin yang ingin mencuri kabar dari langit lalu ia terkena hantaman meteor. Dalam kondisi seperti ini, setan menjauhi hati lebih dari serigala yang menjauhi singa. Bahkan, hati yang seperti ini dapat membuat setan tersungkur sehingga membuat para setan berkumpul dan saling bertanya, 'Ada apa dengan dia?" Kemudian, ada yang menjawab, "Dia terkena cahaya manusia." 
Duhai pandangan hati yang panas bercahaya 
Hampir saja setan terbakar karena cahayanya 
Jelas tidak sama, hati yang bercahaya dengan hati yang gelap penuh bayang-bayang nafsu, tempat setan bercokol sambil berkata: "Aku telah menebus orang yang pasti tidak selamat dunia dan akhiratnya." 
Gubahan syair yang mengungkapkan pernyataan setan: 
Aku adalah sahabatmu di dunia dan akhirat 
Engkau dan aku selalu bersama di mana saja 
Sungguh, aku berada di tempat yang penuh celaka 
Begitu juga kalian semua tentu celaka nan hina bersamaku 
Allah Swt. berfirman:
“Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Qur’an). Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan). Maka, setan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan, sesungguhnya, setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahiva mereka mendapat petunjuk. Sehingga, apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat), dia berkata, 'Duhai, semoga (jarak) antar aku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib. Maka, setan adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia). (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya, kamu bersekutu dalam azab itu. (Az-Zukhruf [43] : 36-39)" 
Allah Swt. menerangkan bahwa orang yang berpaling dari peringatan-Nya, yakni kitab suci yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan membutakan mata darinya hingga ia tidak mau me¬mahami dan memikirkan apa yang di¬maksud oleh-Nya di dalamnya maka Dia telah menjadikan setan sebagai teman yang menjadi hukuman untuknya kare¬na telah berpaling dari kitab-Nya. Setan menjadi teman yang selalu bersamanya dan bahkan menjadi tuannya, padahal setan adalah seburuk-buruk teman dan majikan. Bahkan, sebuah syair mengibaratkan hubungan itu ibarat saudara sepersusuan yang tidak akan terpisahkan. 
Allah Swt. memberitahukan bahwa setan selalu menghalangi teman dan anak buahnya dari jalan menuju-Nya dan surga- Nya, sementara mereka merasa bahwa diri mereka berada dalam petunjuk. Ketika mereka bertemu di hari kiamat, yang satu berkata kepada yang lainnya, "Seandainya jarak antara aku dan kamu sejauh timur dan barat. Sungguh, seburuk-buruk teman bagiku adalah kamu. Di dunia, kamu telah menyesatkan aku dari petunjuk kala kamu datang kepadaku, lalu menghalangiku dari kebenaran hingga aku binasa. Kini, aku sadari bahwa kamu memang benar-benar seburuk-buruk teman bagiku.” 
Ungkapan belasungkawa dari orang lain terhadap orang yang tertimpa musibah seharusnya meringankan dan menghibur, namun Allah telah memberitahukan bahwa itu tidak terjadi pada kedua makhluk itu di kala merasakan siksa yang diterima. Bahkan, tidak ada yang merasa puas di antara keduanya, meski yang lain juga mendapat siksa. Padahal, jika musibah menimpa secara merata di dunia, hal ini pasti dapat menghibur sebagaimana yang telah dikatakan oleh al-Khunsa' mengenai saudaranya Shakhar: 
Seandainya tidak banyak orang yang menangisi di sekitarku Maka, pastilah aku telah melakukan bunuh diri Tidaklah mereka menangis seperti tangis saudaraku yang dapat menghibur jitua sebab ungkapan belasungkaiva Ingatlah wahai saudaraku, Shakhar'. Aku tidak akan melupakanmu Hingga aku meninggalkan hidup ini dan mendatangi kuburku 
Allah Swt. tidak akan memberikan istirahat terhadap para ahli neraka. Dia berfirman:
"(.Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya, kamu bersekutu dalam azab itu. (Al-Zukhruf [43] : 39)"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar