""Nama-nama Nabi""

Nabi Adam as. Nabi Idris as. Nabi Nuh as. Nabi Huud as. Nabi Shaleh as. Nabi Ibrahim as. Nabi Ismail as. Nabi Luth as. Nabi Ishaq as. Nabi Ya’qub as. Nabi Yusuf as. Nabi Syu’aib as. Nabi Ayyub as. Nabi Dzulkifli as. Nabi Musa as. Nabi Harun as. Nabi Daud as. Nabi Sulaiman as. Nabi Ilyas as. Nabi Ilyasa as. Nabi Yunus as. Nabi Zakaria as. Nabi Yahya as. Nabi Isa as. Nabi Muhammad saw.

Kamis, 03 April 2014

MAKRIFAT KEPADA ALLAH

da pun makrifat itu rahsianya ialah mengenal Zat Allah dan Zat Rasulullah,oleh kerana itulah makrifat dimulakan:-
1. Makrifat diri yang zahir. 2. Makrifat diri yang bathin. 3. Makrifat Tuhan.
APA GUNA MAKRIFAT? Ada pun guna makrifat kerana mencari HAKIKAT iaitu mengenal yang Qadim dan mengenal yang baharu sebagaimana kata:
"AWALUDDIN MAKRIFATULLAH" Ertinya: Awal ugama mengenal Allah. Maksudnya mengenal yang mana Qadim dan yang mana baharu serta dapat mengenal yang Qadim dan yang baharu,maka dapatlah membezakan diantara Tuhan dengan hamba.
BAITULLAH KALBU MUKMININ
Sesungguhnya hati ini sewaktu bayi sehingga aqil baliq diibaratkan bunga yang sedang menguntum,tidak ada seekor ulat atau kumbang yang dapat menjelajahnya! apabila dewasa (aqil baliq) maka hati itu ibaratkan bunga yang sedang mengembang,maka masuklah ulat dan kumbang menjelajah bunga itu! Sesungguhnya amalan makrifat dan zikir yang dibaiah itu adalah untuk membersihkan hati agar dapat menguntum semula seperti hati kanak-kanak yang suci-bersih! Hati ini juga seperti satu bekas menyimpan gula yang tertutup rapat dan dijaga dengan baik! sekiranya tutup itu tidak jaga dengan baik atau tutupnya sudah rosak,maka masuklah semut hitam yang sememangnya gula itu makanannya!
PEPERANGAN Peperangan yang lebih besar dari perang UHUD, KHANDAK dan lain-lain peperangan ialah "Peperangan dalam diri sendiri (Hati)", setiap saat denyut jantung ku ini, aku akan terus berperang.Sesungguhnya iblis itu menanti saat dan ketika untuk merosakkan anak Adam !Sekiranya aku tidak ada bersenjata (zikir), nescaya aku pasti kecundang!Keluar masuk nafas anak Adam adalah zikir! 6,666 sehari semalam nafas keluar dan masuk, sekiranya anak Adam tidak bersenjata, pasti ia kecundang!

ASAL USUL MAKRIFAT Rasulullah SAW mengajar kepada sahabatnya Saidina Ali Karamullah.Saidina Ali Karamullah mengajar kepada Imam Abu Hassan Basri.Imam Abu Hassan Basri mengajar kepada Habib An Najmi.Habib An Najmi mengajar kepada Daud Attaie.Daud Attaie mengajar kepada Maaruf Al Karhi.Maaruf Al Karhi mengajar kepada Sirris Sakatari.Sirris Sakatari mengajar kepada Daud Assakatar.Daud Assakatar mengajar kepada Al Junidi. Maka Al Junidi yang terkenal sebagai pengasas MAKRIFAT.Maka pancaran makrifat itu dari empat sumber iaitu:
1. Pancaran daripada sumber SULUK yang dinamakan Makrifat Musyahadah. 2. Pancaran daripada sumber KHALUAT yang dinamakan Makrifat Insaniah. 3. Pancaran daripada Inayah yang dinamakan ROHANI.
4. Pancaran daripada Pertapaan yang dinamakan JIRIM.

Maka dari sumber amalan itulah terbit makrifat yang tinggi dan mempunyai rahsia yang sulit.

 

 

API MA'RIFATULLAH

 

Dengan berlindung kepada Allah Swt, Pencetusan Api Ma’rifattullah dalam kalimah “ALLAH” saya awali.

Syahdan, nama Allah itu tidak akan pernah dapat dihilangkan, sebab nama Allah itu akan menjadikan Zikir bagi para Malaikat, Zikir para burung, Zikir para binatang melata, Zikir tumbuh-tumbuhan dan Zikir dari Nasar yang 4 (tanah, air, angin dan api) serta zikir segala makhluk yang ada pada 7 lapis langit dan 7 lapis bumi, juga zikir makhluk yang berdiam diantara langit dan bumi. (buka…..Al-Qur’an, Surah At-thalaq, ayat 1).

Adapun zikir para makhluk Allah yang kami sebutkan tadi tidaklah sama logatnya, dan tidak sama pula bunyi dan bacaannya. Tidak sedikit para akhli Sufi dan para wali-wali Allah yang telah mendengar akan bunyi zikir para makhluk itu, sungguh sangat beraneka ragam bunyinya.

Dalam Kitab Taurat, nama Zat yang maha Esa itu ada 300 banyaknya yang ditulis menurut bahasa Taurat, dalam Kitab Zabur juga ada 300 banyaknya nama Zat yang maha esa itu yang ditulis dengan bahasa Zabur.

Dalam Kitab Injil juga ada 300 banyaknya nama Zat yang Esa itu yang ditulis dengan bahasa Injil, dan dalam Kitab Al-Qur’an juga ada 99 nama Zat yang esa itu ditulis dalam bahasa Arab. Jika kita berhitung maka dari keempat kitab itu yang ditulis berdasarkan versinya, maka akan ada 999 nama bagi zat yang maha esa itu, dari jumlah tersebut maka yang 998 nama itu, adalah nama dari Sifat Zat yang maha Esa, sedangkan nama dari pada Zat yang maha esa itu hanya satu saja, yaitu “ ALLAH ”.

Diterangkan didalam Kitab Fathurrahman, berbahasa Arab, yaitu pada halaman 523. disebutkan bahwa nama Allah itu tertulis didalam Al-Qur’an sebanyak 2.696 tempat.

Apa kiranya hikmah yang dapat kita ambil mengapa begitu banyak nama Allah, Zat yang maha Esa itu bagi kita…?

Allah, Zat yang maha esa, berpesan :

“ Wahai Hambaku janganlah kamu sekalian lupa kepada namaku “

Maksudnya : Allah itu namaku dan Zatku, dan tidak akan pernah bercerai, Namaku dan Zatku itu satu.

Allah Swt juga telah menurunkan 100 kitab kepada para nabi-nabinya, kemudian ditambah 4 kitab lagi sehingga jumlah keseluruhan kitab yang telah diturunkan-Nya berjumlah 104 buah kitab, dan yang 103 buah kitab itu rahasianya terhimpun didalam Al-Qur’annul karim, dan rahasia Al-Qur’annul karim itu pun rahasianya terletak pada kalimah “ALLAH”.

Begitu pula dengan kalimah La Ilaha Ilallah, jika ditulis dalam bahasa arab ada 12 huruf, dan jika digugurkan 8 huruf pada awal kalimah La Ilaha Ilallah, maka akan tertinggal 4 huruf saja, yaitu Allah.

Ma’na kalimah ALLAH itu adalah sebuah nama saja, sekalipun digugurkan satu persatu nilainya tidak akan pernah berkurang, bahkan akan mengandung ma’na dan arti yang mendalam, dan mengandung rahasia penting bagi kehidupan kita selaku umat manusia yang telah diciptakan oleh Allah Swt dalam bentuk yang paling sempurna.

ALLAH jika diarabkan maka Ia akan berhuruf dasar Alif, Lam diawal, Lam diakhir dan Ha. Seandai kata ingin kita melihat kesempurnaannya maka gugurkanlah satu persatu atau huruf demi hurufnya.

• Gugurkan huruf pertamanya, yaitu huruf Alif (ا ), maka akan tersisa 3 huruf saja dan bunyinya tidak Allah lagi tetapi akan berbunyi Lillah, artinya bagi Allah, dari Allah, kepada Allahlah kembalinya segala makhluk.
• Gugurkan huruf keduanya, yaitu huruf Lam awal (ل ), maka akan tersisa 2 huruf saja dan bunyinya tidak lillah lagi tetapi akan berbunyi Lahu.
Lahu Mafissamawati wal Ardi, artinya Bagi Allah segala apa saja yang ada pada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.
• Gugurkan huruf ketiganya, yaitu huruf Lam akhir ( ل), maka akan tersisa 1 huruf saja dan bunyinya tidak lahu lagi tetapi Hu, Huwal haiyul qayum, artinya Zat Allah yang hidup dan berdiri sendirinya.

Kalimah HU ringkasnya dari kalimah Huwa, sebenarnya setiap kalimah Huwa, artinya Zat, misalnya :

Qul Huwallahu Ahad., artinya Zat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai Allah. Yang dimaksud kalimah HU itu menjadi berbunyi AH, artinya Zat.

Bagi sufi, napas kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini berisi amal bathin, yaitu HU, kembali napas turun di isi dengan kalimah ALLAH, kebawah tiada berbatas dan keatas tiada terhingga.

Perhatikan beberapa pengguguran – pengguguran dibawah ini :

Ketahui pula olehmu, jika pada kalimah ALLAH itu kita gugurkan Lam (ل ) pertama dan Lam (ل ) keduanya, maka tinggallah dua huruf yang awal dan huruf yang akhir (dipangkal dan diakhir), yaitu huruf Alif dan huruf Ha (dibaca AH).

Kalimah ini (AH) tidak dibaca lagi dengan nafas yang keluar masuk dan tidak dibaca lagi dengan nafas keatas atau kebawah tetapi hanya dibaca dengan titik.

Kalimah AH, jika dituliskan dengan huruf Arab, terdiri 2 huruf, artinya dalam bahasa disebutkan INTAHA (Kesudahan dan keakhiran), seandai saja kita berjalan mencari Allah tentu akan ada permulaannya dan tentunya juga akan ada kesudahannya, akan tetapi kalau sudah sampai lafald Zikir AH, maka sampailah perjalanan itu ketujuan yang dimaksudkan. (Silahkan bertanya kepada akhlinya)

Selanjutnya gugurkan Huruf Awalnya, yaitu huruf ALIF dan gugurkan huruf akhirnya, yaitu huruf HA, maka akan tersisa 2 buah huruf ditengahnya yaitu huruf LAM pertama (Lam Alif) dan huruf LAM kedua ( La Nafiah). Qaidah para sufi menyatakan tujuannya adalah Jika berkata LA (Tidak ada Tuhan), ILLA (Ada Tuhan), Nafi mengandung Isbat, Isbat mengandung Nafi tiada bercerai atau terpisah Nafi dan Isbat itu.

Selanjutnya gugurkan huruf LAM kedua dan huruf HU, maka yang tertinggal juga dua huruf, yaitu huruf Alif dan huruf Lam yang pertama, kedua huruf yang tertinggal itu dinamai Alif Lam La’tif dan kedua huruf itu menunjukkan Zat Allah, maksudnya Ma’rifat yang sema’rifatnya dalam artian yang mendalam, bahwa kalimah Allah bukan NAKIRAH, kalimah Allah adalah Ma’rifat, yakni Isyarat dari huruf Alif dan Lam yang pertama pada awal kalimah ALLAH.

Gugurkan tiga huruf sekaligus, yaitu huruf LAM pertama, LAM kedua, dan HU maka tinggallah huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal, yaitu huruf Alif (Alif tunggal yang berdiri sendirinya).

Berilah tanda pada huruf Alif yang tunggal itu dengan tanda Atas, Bawah dan depan, maka akan berbunyi : A.I.U dan setiap berbunyi A maka dipahamhan Ada Zat Allah, begitu pula dengan bunyi I dan U, dipahamkan Ada Zat Allah dan jika semua bunyi itu (A.I.U) dipahamkan Ada Zat Allah, berarti segala bunyi/suara didalam alam, baik itu yang terbit atau datangnya dari alam Nasar yang empat (Tanah, Air, Angin dan Api) maupun yang datangnya dan keluar dari mulut makhluk Ada Zat Allah.

Penegasannya bunyi atau suara yang datang dan terbit dari apa saja kesemuanya itu berbunyi ALLAH, nama dari Zat yang maha Esa sedangkan huruf Alif itulah dasar (asal) dari huruf Arab yang banyaknya ada 28 huruf.

Dengan demikian maka jika kita melihat huruf Alif maka seakan-akan kita telah melihat 28 huruf yang ada. Lihat dan perhatikan sebuah biji pada tumbuh-tumbuhan, dari biji itulah asal usul segala urat, batang, daun, ranting, dahan dan buahnya.

Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah.

Pandang yang satu kepada yang banyak dan pandang yang banyak kepada yang satu maka yang ada hanya satu saja yaitu satu Zat dan dari Zat itulah datangnya Alam beserta isinya.

Al-Qur’an yang jumlah ayatnya 6666 ayat akan terhimpun kedalam Suratul Fatekha, dan Suratul Fatekha itu akan terhimpun pada Basmallah, dan Basmallah itupun akan terhimpun pada huruf BA, dan huruf BA akan terhimpun pada titiknya (Nuktah). Jika kita tilik dengan jeli maka titik itulah yang akan menjadi segala huruf, terlihat banyak padahal ia satu dan terlihat satu padahal ia banyak.
Selanjutnya Huruf-huruf lafald Allah yang telah digugurkan maka tinggallah empat huruf yang ada diatas lafald Allah tadi, yaitu huruf TASYDID (bergigi tiga, terdiri dari tiga huruf Alif) diatas Tasydid adalagi satu huruf Alif.

Keempat huruf Tasydid itu adalah isyarat bahwa Tuhan itu Ada, maka wajib bagi kita untuk mentauhidkan Asma Allah, Af’al Allah, Sifat Allah dan Zat Allah.
Langkah terakhir gugurkan keseluruhannya, maka yang akan tinggal adalah kosong.
LA SAUTUN WALA HARFUN, artinya tidak ada huruf dan tiada suara, inilah kalam Allah yang Qadim, tidak bercerai dan terpisah sifat dengan Zat.

Tarku Mayiwallah (meninggalkan selain Allah) Zat Allah saja yang ada.
La Maujuda Illallah (tidak ada yang ada hanya Allah).

Sembilan kali sudah kita menggugurkan kalimah Allah, seandainya juga belum dapat dipahami maka tanyakanlah kepada akhlinya.

Lafadz Syahadat Yang Diucapkan Nabi Muhammad saw

 
Bila yang dimaksud lafazh syahadat seperti ketika dalam shalat, maka lafazh syahadatnya sama dengan umatnya.

أخبرنا الرَّبِيعُ قال أخبرنا الشَّافِعِيُّ قال أخبرنا يحيى بن حَسَّانَ عن اللَّيْثِ بن سَعْدٍ عن أبي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ عن سَعِيدِ بن جُبَيْرٍ وَطَاوُسٍ عن بن عَبَّاسٍ قال كان رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ كما يُعَلِّمُنَا الْقُرْآنَ فَكَانَ يقول التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ سَلَامٌ عَلَيْك أَيُّهَا النبي وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ سَلَامٌ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رسول اللَّهِ

"Dikhabarkan dari Rabi' berkata, dikhabarkan dari Syafi'i berkata, dikhabarkan dari Yahya ibn Hassan, dari Laits ibn Sa'd, dari Abu Zubair al-Makkiy, dari Sa'id ibn Jubair dan Thawus, dari Ibnu Abbas berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada kami tasyahud sebagaimana mengajarkan kami al-Qur'an. Maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam berucap: attahiyyatul mubarakatush shalawatuth thayyibatu lillah. Salamun 'alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Salamun 'alaina wa 'ala 'ibadillahish shalihin. Asyhadu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah." (al-Um: 117)


MENGENAL ZAT....& ULIL AMRI


MENGENAL ZAT…..
Jangan Sekali-kali Anda Sekutukan Allah

ALLAH ITU ZAT

ALLAH itu Tuhan segala manusia. Apakah Allah itu ? Allah itu Nama / Asma’. Nama bagi siapa ? . Nama bagi DIRI ZAT. Siapa itu Zat ? ZAT inilah RAHSIA bagi manusia.

DIA Maha Mengetahui segala Alam Saghir dan Alam Kabir. Yang dikatakan Alam Saghir ialah Alam Kecil iaitu manusia itu sendiri, manakala Alam Kabir ialah Alam Semesta , bumi , matahari, bulan dan sebagainya. Menjadikan dan Yang Menciptakan serta Mematikan segala yang bernyawa.

Kebanyakan manusia tidak lazim dengan panggilan ZAT tetapi Nama Yang Agung bagi manusia ialah Allah. Sebut Allah semua orang faham, Dialah Tuhan. Sebut Zat tidak ramai yang tahu, kerana apa ? Kerana ahli sains telah memberi nama zat kepada besi, galian, makanan dan sebagainya.

Cuma Ahli Tasauf mengatakan ZAT WAJIBUL WUJUD atau dalam Bahasa Melayunya untuk mudah difahami ialah :-

Manusia itu mengandungi Zat…tetapi bukan zat besi, galian, vitamin dan sebagainya.

ZAT yang MELIPUTI SEKALIAN ANGGOTA MANUSIA, yang memberi PERASAAN, PENDENGARAN, PENGLIHATAN, PENCIUMAN dan PERGERAKAN. Itulah yang dikatakan ZAT.

Oleh kerana Zat ataupun Allah ini suatu Pelajaran Yang Seni maka tumpukan sepenuh jiwa kalau mahu Mengenal Tuhan.

Kerana apa ? ZAT inilah Penyelamat Diri Manusia.

Syurga atau Neraka, Mati atau Hidup semuanya bergantung pada Zat Wajibul Wujud iaitu Allah.

Islamnya sasaorang bukannya terletak pada kuat mengerjakan Rukun dan Hukum. Kafirnya sasaorang bukan terletak pada perbuatan Melanggar Rukun dan Hukum.

Islamnya sasaorang jika ia dapat MENTAATI Allah, Rasul dan Ulil Amri saperti Firman Allah An Nisa : 59 yang bermaksud :-

Hai orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul dan Ulil Amri diantara kamu.

Cara manakah hendak mentaati Allah , Rasul dan Ulil Amri ? Ikut Rukun dan buat Hukum ? Ya ini adalah langkah pertama bernama Syariat. Memperbanyakkan zikir ? Ya
Ini adalah dasar Tariqat untuk mensucikan hati.

Sebelum kita mendalami apakah yang dikatakan Syariat, maka eloklah difahami dahulu perkataan dan makna ALLAH – RASUL dan ULUL AMRI.

ALLAH itu Nama bagi DIRI ZAT
RASUL itu Sifat bagi DIRI ZAT
ULIL AMRI itu Af’al bagi DIRI ZAT

MEMAHAMI MAKNA ULIL AMRI

Sebut kalimah Allah orang tahu pada NamaNya. Begitu juga Rasul namanya ialah Muhammad. Tetapi Ulil Amri ramai yang tahu tetapi buat buat tahu terutamanya Ulama’ Feqah.

Adapun pengertian Ulil Amri oleh Ulama’ Feqah ialah Pemerentah sesuatu negeri atau Negara yang bergelar Kerajaan. Contohnya Kerajaan Barisan Nasional atau Kerajaan PAS.

Jika sasaorang itu beriman bahawa ulil Amrinya ialah Barisan Nasional atau PAS, maka SESAT – lah manusia itu dan bertambah jauhlah AQIDAH Keimanan pada Ulil Amri yang sebenar.

Kenapa boleh jadi begitu ? Ingatlah bahawa Ulil Amri yang dimaksudkan bukannya manusia dan bukannya dipilih melalui Pilihanraya oleh rakyat tetapi ALLAH YANG MEMILIHNYA.

Ulil Amri yang sebenarnya adalah PEMERENTAH yang Maha Kaya dan tidak memerlukan pungutan cukai untuk memerentah seperti kerajaan dunia.

Firman Allah : Al- An Am : 116
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang dimuka bumi ini, nescaya mereka akan MENYESATKAN kamu dari Jalan Allah, mereka tidak lain hanyalah MENGIKUT PERSANGKAAN dan mereka TIDAK LAIN HANYALAH DUSTA.

Ulil Amri yang sebenarnya adalah Pemerentah Diri kita. Segala gerak geri dan diam kita adalah kerananya. Dialah yang menghidupkan Jasad. Jasad kita adalah umpama rakyat yang menjalankan Titah Perentah Pemerintah didalam diri manusia. Ulil Amri itu adalah Tuhan manusia.

Nyata pada mata kasar bahawa manusia itu bergerak saperti berjalan, duduk dan sebagainya tetapi terfikirkah oleh manusia kenapa ianya berjalan ?

Siapakah yang menggerakkan kakinya untuk berjalan ?

Maka kalau jawapannya = aku berjalan dengan kehendak aku TANPA FAHAM MAKSUD AKU itu – nyatalah manusia itu sedang MENDUAKAN Allah. Kenapa dikatakan begitu ? Kerana manusia itu lupa bahawa Jasadnya itu MATI kalau tiada Nyawa. Nyawa pula tidak akan ada kalau TIADA ULIL AMRI. Ulil Amri pula ujud daripada ZAT. Bukankah itu berkait ?

Manusia dan Ulil Amri TIDAK BOLEH BERPISAH dan kalau berpisah juga MATI namanya. Kalau DIPISAHKAN – SYIRIK jatuhnya. Kalau di SE-KAN HIDUP selama-lamanya jadinya.

Pilihlah yang mana anda hendak ?

Nak MATI berpisah dengan Ulil Amri
Nak SYIRIK pisahkan Ulil Amri
Nak HIDUP SE-kan Ulil Amri.

Lazimnya manusia ada dua mertabat :-

Pertama mati terus menanggung Azab Kubur
Kedua TERUS dengan Mensyirikkan Allah.

Mertabat yang seni yakni SE. Hanya Allah saja yang MEMILIH umatnya. Manusia yang mengenal Ulil Amri akan menjalankan segala Titah PerintahNya dan jadilah mereka orang orag BERIMAN DISISI ALLAH tetapi kebanyakannya KAFIR di SISI MANUSIA.

Firman Allah : Al-Jin : 13 : yang bermaksud :-

Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia TIDAK TAKUT akan PENGURANGAN PAHALA dan TIDAK TAKUT PULA akan PENAMBAHAN DOSA dan KESALAHAN.

Firman diatas jelas akan maksudnya yang mengatakan manusia yang beriman YAKIN bahawa dirinya bergerak kerana DIGERAKKAN oleh Allah. Maka ianya hanyalah MENJALANKAN TITAH PERENTAH YANG BERKUASA terhadap segala sesuatu perbuatan walaupun perbuatan itu melanggar Hukum Feqah yang telah menetapkan dosa dan Pahala.

Dia tidak takut SEBAB DIA BERIMAN bahawa dia sebagai manusia tidak boleh berbuat apa apa Yang berbuat itu ialah Allah termasuk melakukan perbuatan perbuatan yang melanggar hukum.

TENTANG ALLAH

ALLAH
Surat Al-Baqarah ( 2 : 115 )
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Surat Al-Baqarah ( 2 : 186 )
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran

Surat Al-Baqarah ( 2 : 255 )
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Surat Al-Baqarah ( 2 : 286 )
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَاۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Surat 'Āli `Imrān ( 3 : 5 )
إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.

Surat 'Āli `Imrān ( 3 : 6 )
هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Surat 'Āli `Imrān ( 3 : 26 )
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Surat 'Āli `Imrān ( 3 : 102 )
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Surat Al-'An`ām ( 6 : 17 )
وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Surat Hūd ( 11 : 6 )
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَاۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Surat An-Naĥl ( 16 : 10 )
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءًۖ لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

Dialah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu

Surat An-Naĥl ( 16 : 11 )
يُنبِتُ لَكُم بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِن كُلِّ الثَّمَرَاتِۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Surat Al-'Isrā' ( 17 : 44 )
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Surat An-Nūr ( 24 : 35 )
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Surat Az-Zumar ( 39 : 53 )
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Surat Ghāfir ( 40 : 68 )
هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُۖ فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia.

Surat Fuşşilat ( 41 : 47 )
إِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَمَا تَخْرُجُ مِن ثَمَرَاتٍ مِّنْ أَكْمَامِهَا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِۚ وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ أَيْنَ شُرَكَائِي قَالُوا آذَنَّاكَ مَا مِنَّا مِن شَهِيدٍ

Kepada-Nya-lah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Pada hari Tuhan memanggil mereka: "Dimanakah sekutu-sekutu-Ku itu?", mereka menjawab: "Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorangpun di antara kami yang memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu)".

Surat Ash-Shūraá ( 42 : 24 )
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًاۖ فَإِن يَشَإِ اللَّهُ يَخْتِمْ عَلَىٰ قَلْبِكَۗ وَيَمْحُ اللَّهُ الْبَاطِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Bahkan mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah". Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al Quran). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.

Surat Ash-Shūraá ( 42 : 28 )
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.

Surat Qāf ( 50 : 16 )
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,

Surat Al-Qamar ( 54 : 50 )
وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ

Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.
 10.Surah Yūnus (Verse 106)
وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ

Dan janganlah engkau (wahai Muhammad) menyembah atau memuja yang lain dari Allah, yang tidak dapat mendatan
gkan manfaat kepadamu dan juga tidak 
dapat mendatangkan mudarat kepadamu. Oleh itu, sekiranya engkau mengerjakan yang demikian, maka pada saat itu menjadilah engkau dari orang-orang yang berlaku zalim (terhadap diri sendiri dengan perbuatan 
syirik itu

Bismillah dan hakikatnya

 
HAKIKAT BISMILLAH HURUF PER HURUf Dalam suatu hadits Nabi saw. Beliau bersabda, Setiap kandungan dalam seluruh kitab-kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al Quran. Dan seluruh kandungan Al Quran ada di datam Al Fatihah. Dan semua yang ada dalam Al Fatihah ada di dalam Bismillah hirrahmaan nirrahiim.
Bahkan disebutkan dalam hadits lain, setiap kandungan yang ada dalam Bismillah hirrahmaan nirrahiim ada di dalam huruf Baa, dan setiap yang terkandung di dalam Baa ada di dalam titik yang berada dibawah Baa.
Sebagian para Arifin menegaskan, Dalam perspektif orang yang makrifat kepada Allah, Bismillaah hirrahmaan nirrahim itu kedudukannya sama dengan kun dari Allah.
Perlu diketahui bahwa pembahasan mengenai Bismillah hirrahmaan nirrahiim banyak ditinjau dari berbagai segi, baik dari segi gramatikal (Nahwu dan sharaf) atau pun segi bahasa (etimologis), disamping tinjuan dari materi huruf, bentuk, karakteristik, kedudukan, susunannya serta keistemewaanya atas huruf-huruf lainnya yang ada dalam Surat Pembuka Al Qur’an, kristalisasi dan spesifikasi huruf huruf yang ada dalam huruf Baa, manfaat dan rahasianya.
Tujuan kami bukan mengupas semua itu, tetapi lebih pada esensi atau hakikat makna terdalam yang relevan dengan segala hal di sisi Allah swt, Pembahasannya akan saling berkaitan antara satu sama lainnya, karena seluruh tujuannya adalah Ma’rifat kepada Allah swt.
Kami memang berada di gerbangNya, dan setiap ada limpahan baru di dalam jiwa maka ar-Ruhul Amin turun di dalam kalbunya kertas. Ketahuilah bahwa Titik yang berada dibawah huruf Baa’ adalah awal mula setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala. Sebab huruf itu sendiri tersusun darititik, dan sudah semestinya setiap Surat ada huruf yang menjadi awalnya, sedangkan setiap huruf itu ada titik yang menjadi awalnya huruf. Karena itu menjadi keniscayaan bahwa titik itu sendiri adalah awal dan pada setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala.
Kerangka hubungan antara huruf Baa dengan Tititknya secara komprehensif akan dijelaskan berikut nanti. Bahwa Baa dalam setiap surat itu sendiri sebagai keharusan adanya dalam Basmalah bagi setiap surat, bahkan di dalam surat Al-Baqarah. Huruf Baa itu sendiri mengawali ayat dalam surat tersebut. Karena itu dalam konteks inilah setiap surat dalam Al-Qur’an mesti diawali dengan Baa sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seluruh kandungan Al-Qur’an itu ada dalam surah Al-Fatihah, tersimpul lagi di dalam Basmalah, dan tersimpul lagi dalam Huruf Baa, akhirnya pada titik.
Hal yang sama , Allah SWT dengan seluruh yang ada secara paripurna sama sekali tidak terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Titik sendiri merupakan syarat-syarat dzat Allah Ta’ala yang tersembunyi dibalik khasanahnya ketika dalam penampakkan-Nya terhadap mahlukNya. Amboi, titik itu tidak tampak dan tidak Layak lagi bagi anda untuk dibaca selamanya mengingat kediaman dan kesuciannya dari segala batasan, dari satu makhraj ke makhraj lainya. Sebab ia adalah jiwa dari seluruh huruf yang keluar dari seluruh tempat keluarnya huruf. Maka,camkanlah, dengan adanya batin dari Ghaibnya sifat Ahadiyah.
Misalnya anda membaca titik menurut persekutuan, seperti huruf Taa’ dengan dua tik, lalu Anda menambah satu titik lagi menjadi huruf Tsaa’, maka yang Anda baca tidak lain kecuali Titik itu sendiri. Sebab Taa’ bertitik dua, dan Tsaa’ bertitik tiga tidak terbaca,karena bentuknya satu, yang tidak terbaca kecuali titiknya belaka. Seandainya Anda membaca di dalam diri titik itu niscaya bentuk masing-masing berbeda dengan lainnya. Karena itu dengan titik itulah masing-masing dibedakan, sehingga setiap huruf sebenarnya tidak terbaca kecuali titiknya saja. Hal yang sama dalam perspektif makhluk, bahwa makhluk itu tidak dikenal kecuali Allah.
Bahwa Anda mengenal-Nya dari makhluk sesungguhnya Anda mengenal-Nya dari Allah swt. Hanya saja Titik pada sebagian huruf lebih jelas satu sama lainnya, sehingga sebagian menambah yang lainnya untuk menyempurnakannya, seperti dalam huruf-huruf yang bertitik, kelengkapannya pada ttik tersebut. Ada sebagian yang tampak pada kenyataannya seperti huruf Alif dan huruf-huruf tanpa Titik. Karena huruf tersebut juga tersusun dari titik-titik. Oleh sebab itulah, Alif lebih mulia dibanding Baa’,karena Titiknya justru menampakkan diri dalam wujudnya, sementara dalam Baa’ itu sendiri tidak tampak (Titik berdiri sendiri). Titik di dalam huruf Baa’ tidak akan tampak, kecuali dalam rangka kelengkapannya menurut perspektif penyatuan. Karena Titik suatu huruf Merupakan kesempurnaan huruf itu sendiri dan dengan sendirinya menyatu dengan huruf tersebut. Sementara penyatuan itu sendiri mengindikasikan adanya faktor lain, yaitu faktor yang memisahkan antara huruf dengan titiknya.
Huruf Alif itu sendiri posisinya menempati posisi tunggal dengan sendirinya dalam setiap huruf. Misalnya Anda bisa mengatakan bahwa Baa’ itu adalah Alif yang di datarkan Sedang Jiim, misalnya, adalah Alif dibengkokkan’ dua ujungnya. Daal adalah Alif yang yang ditekuk tengahnya.
Sedangkan Alif dalam kedudukan titik, sebagai penyusun struktur setiap huruf ibarat Masing-masing huruf tersusun dari Titik. Sementara Titik bagi setiap huruf ibarat Neucleus yang terhamparan. Huruf itu sendiri seperti tubuh yang terstruktur. Kedudukan Alif dengan kerangkanya seperti kedudukan Titik. Lalu huruf-huruf itu tersusun dari Alif sebagimana kita sebutkan, bahwa Baa’ adalah Alif yang terdatarkan.
Demikian pula Hakikat Muhammadiyyah merupakan inti dimana seluruh jagad raya ini diciptakan dari Hakikat Muhammadiyah itu. Sebagaimana hadits riwayat Jabir, yang intinya Allah swt. menciptakan Ruh Nabi saw dari Dzat-Nya, dan menciptakan seluruh alam dari Ruh Muhammad saw. Sedangkan Muhammad saw. adalah Sifat Dzahirnya Allah dalam makhluk melalui Nama-Nya dengan wahana penampakan Ilahiyah.
Anda masih ingat ketika Nabi saw. diisra’kan dengan jasadnya ke Arasy yang merupakan Singgasana Ar-Rahman. Sedangkan huruf Alif, —walaupun huruf-huruf lain yang tanpa titik sepadan dengannya, dan Alif merupakan manifestasi Titik yang tampak di dalamnya dengan substansinya — Alif memiliki nilai tambah dibanding yang lain. Sebab yang tertera setelah Titik tidak lain kecuali berada satu derajat. Karena dua Titik manakala disusun dua bentuk alif, maka Alif menjadi sesuatu yang memanjang. Karena dimensi itu terdiri dari tiga: Panjang, Lebar dan Kedalaman.
Sedangkan huruf-huruf lainnya menyatu di dalam Alif,seperti huruf Jiim. Pada kepala huruf Jiim ada yang memanjang, lalu pada pangkal juga memanjang, tengahnya juga memanjang. Pada huruf Kaaf misalnya, ujungnya memanjang, tengahnya juga memanjang namun pada pangkalnya yang pertama lebar. Masing-masing ada tiga dimensi. Setiap huruf selain Alif memiliki dua atau tiga jangkauan yang membentang. Sementara Alif sendiri lebih mendekati titik. Sedangkan titik , tidak punya bentangan. Hubungan Alif diantara huruf-huruf yang Tidak bertitik, ibarat hubungan antara Nabi Muhammad saw, dengan para Nabi dan para pewarisnya yang paripurna. Karenanya Alif mendahului semua huruf.
Diantara huruf-huruf itu ada yang punya Titik di atasnya, ada pula yang punya Titik dibawahnya,Yang pertama (titik di atas) menempatip osisi “Aku tidak melihat sesuatu sebelumnya) kecuali melihat Allah di sana”.
Diantara huruf itu ada yang mempunyai Titik di tengah, seperti Titik putih dalam lobang Huruf Mim dan Wawu serta sejenisnya, maka posisinya pada tahap, ”Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya.” Karenanya titik itu berlobang, sebab dalam lobang itu tampak sesuatu selain titik itu sendiri Lingkaran kepada kepala Miim menempati tahap, “Aku tidak melihat sesuatu” sementara Titik putih menemptai “Kecuali aku melihat Allah di dalamnya.”
Alif menempati posisi “Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu sesungguhnya mereka itu berbaiat kepada Alllah.” Kalimat “sesungguhnya” menempati posisi arti “Tidak”, dengan uraian “Sesungguhnya orang-orang berbaiat” kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu, kecuali berbaiat kepada Allah.”
Dimaklumi bahwa Nabi Muhammad saw. dibaiat, lalu dia bersyahadat kepada bersyahadat kepada Allah pada dirinya sendiri, sesungguhnya tidaklah dia itu berbaiat kecuali berbaiat kepada Allah. Artinya, kamu sebenarnya tidak berbaiat kepada Muhammad saw. tetapi hakikat-nya berbaiat kepada Allah swt. Itulah arti sebenarnya dari Khilafah tersebut.

JANGAN PANDANG WUJUDMU

Ketahuilah olehmu bahawasa nya selagi kau merasa dan memandang akan adanya ujudmu itu pada keadaan ini maka kau belum lagi sampai kepada penyatuan yang sejati,,,,,,,

Penyatuan ini bukanlah bererti kita dan Tuhan bersatu pada tempat yang sama kerana mana mungkin dua hal yang berbeza mendudukki pada tempat yang sama ..ini tidak munkin terjadi dan tak akan terjadi.

Akan tetapi penyatuan yang dimaksudkan ini adalah ia (insan)  itu memandang akan segala yang ujud ini adalah kenyataan bekas dari azali iaitu Tuhan, ke-akuan diri pada menyatakan kewujudan Tuhan secara menyeluruh inilah yang di kehendaki. Oleh itu kita mestilah memahami nya dalam erti kata yang sebenarnya.

Penampakan atau kezahiran pada barang yang ujud zahir mahupun ujud batin itu adalah semuanya itu dalil dan ia sememangnya Kenyataan Tuhan pada Sifat Az-zhohiru (yang zahir) kerana ujud itu hanyalah satu jua pada nisbah wujud iaitu Zatullah. Maka yang lain itu adalah kenyataan wujudnya.

Penyatuan yang kita mahukan ini adalah penyatuan yang hakiki bukan bersatu kita dan Tuhan . Itu dengan makna kita dan Tuhan berada pada satu tempat akan tetapi ia membawa makna bahawa Tuhan itulah yang wujud dan aku ini ganti nama bagi Sifat Kewujudan nya.

AKU adalah Esa dari Ke-esaan Tuhan ia dinamakan Sifat yang ternyata dari alam zat. Setelah nyata nya AKU maka Zat itu telah ghaib didalam sirrku. Kini yang dilihat dan dirasa itu adalah Sifat Kenyataan ZatNya, Oleh itu kalau kita selidiki maka tidak lah ada percampuran didalam hal penyatuan ini,

Esaku menyatakan Tuhan umpama bayangan pada cermin......mana munkin bayang atau gambaran didalam cermin itu menjadi dua kalau yang diluarnya satu objek sahaja. Ini bermakna ianya satu diluar dan menunjukan satu itu pula adalah didalam cermin itu maka tiada dua lah ia melainkan satu jua.

Perjalananku melakukan penyatuan dengan mengadakan Pengakuan dan Penyaksian yang hakiki pada hakikat ku sendiri iaitu Tuhan. Hadrat ilahi lah yang meleburkan ke-akuanku pada fahamanku yang mengatakan aku ini ada dan aku ini lain nya dan apabila hampirnya aku pada maqamku iaitu Ketuhananku maka aku yang dulunya ada kita telah menjadi tiada kerana bersatunya AKU dan tuhanku.

Maka disitu TIADA LAGI SIFATmelainkan ZAT semata-mata ini dapat ku tahu apabila aku merasai aku hilang perasaanku pada keadaanku sendiri.

Saudaraku fahamkanlah ini bukan aku mengaku aku ini Tuhan akan tetapi aku mengatakan aku ini ujud yang menyatakan ujudnya Allah, tanpaku dia (allah) tidak akan Nampak wujudNYA nya kerana AKUlah yang menyatakan nya,.........sekian.

SYAHADAH SEBENARNYA

Rukun syahadah 4 perkara:
1. mengisbatkan zat Allah
2. mengisbatkan sifat Allah
3. mengisbatkan af’al Allah
4. mengisbatkan kebenaran Rasulullah

Syarat sah syahadah:
1. diketahui
2. diiqrarkan
3. ditasdiqkan
4. diamalkan

Binasa syahadah 4 perkara:
1. menduakan Allah
2. syak dan waham di dalam hati
3. menyangkal dirinya dijadikan oleh Allah
4. tidak mengisbatkan zat Allah

Syahadah terbahagi kepada 3 bahagian:
1. syahadah syariat
2. syahadah tareqat
3. syahadah haqiqat
Syahadah syariat – mengucap syahadatain serta dikerjakan yang disuruh dan meninggalkan yang ditegah
Syahadah tareqat – hendaklah kita melihat dengan sepenuhnya segala perkara yang terjadi pada kita dan sekalian makhluk samada baik atau jahat, semuanya datang dari Allah dengan qudrah dan iradahNya, serta ikhlas kita kepadaNya.
Syahadah haqiqat – apabila kita sudah mengetahui dan yakini dengan sepenuhnya pada hati kita , dan diucapkan dengan syahadatain, iaitu telah nyata apa yang kita lihat dengan mata zahir, mata hati dan mata sir akan setiap perbuatan Allah dengan qudrah dan iradahNya. Maka zahirlah wujud itu di dalam setiap hal dan keadaan, sehingga kita pandang dengan mata sirr kita, tiada wujud yang lain melainkan wujud Allah semata-mata.
Syahadah ada 2 macam iaitu syahadah kamilah dan syahadah sirr. Syahadah sirr itu di hati, tidak lahir syahadah roh itu melainkan dengan syahadah kamilah. Jadi, kedatangan syahadah itu adalah disebabkan adanya roh. Jika tiada roh, tiadalah syahadah itu. Roh itu adalah sir Allah, zahir itu jadi kenyataan, inilah yang dikatakan kalimah kamilah @ sempurna, barulah sempurna kalimah syahadah yang kita syahadahkan, kerana kamilah itu adalah sirr. Jika seseorang tidak tahu kalimah sirr itu, maka pastilah (yakin) pada seseorang itu mengaku bahawa syahadah itu adalah syahadahnya.
Maka yang ada pada kita itu adalah untuk menyatakan anasir zat iaitu wujud, ilmu, nur dan syuhud @ zatNya, sifatNya, asmaNya dan af’alNya. Inilah yang dikatakan tajalli zat @ dikatakan syahadah. Jadi sifat ma’ani itulah syahadah @ kenyataan, yakni syahadah kamilah. Dan nyata syahadah kamilah itu dengan adanya syahadah sirr. Apa yang menjadi sirr ialah wujud, ilmu, nur dan syuhud.
Kamilah iaitu alam roh, alam mithal, alam ijsam dan alam insan yang ada pada makhluk khususnya pada Muhammad, kerana Muhammad adalah amanah. Yang menjadi amanah (hayat) iaitu alam roh. Hidup inilah yang hendak menyatakan zatNya, sifatNya, asmaNya dan af’alNya.
Kalau kita memahami dengan sebenar-benarnya faham, bahawa kita diibaratkan duduk di dalam lautan. Cuma kita tidak sedar kerana kita tidak lemas. Tetapi jika kita tahu, sememangnya kita lemas, kerana setiap orang yang berada di dalam lautan sudah semestinya lemas. Oleh kerana seseorang itu tidak sedar akan duduknya di dalam lautan, jadi sangkaannya “hidup” ini kepunyaannya, kerana dia belum mati. Inilah perbezaan antara orang yang tiada ilmu makrifah. Pada ahli makrifah, bahawa dia duduk di dalam lautan iaitu maul hayat @ lautan ahdah.
Maka mengambil ibarat antara cermin dengan bayang di dalam cermin. Jasad ini ibarat cermin dan gambar di dalam cermin itu adalah benda di hadapan cermin. Maka di hadapan cermin itulah gambarnya. Apa yang menjadi gambar kepada kita ialah hayat, ilmu, qudrah, iradah, sama’, basar dan kalam.
Gambar di hadapan kita iaitu nafas yang turun naik dan membawa segala perubahan. Maka sesiapa yang dapat memandang itu, lemaslah ia. Dan setiap yang lemas itu harus mati. Apabila sudah mati, yang hidup itu barulah zahir nama Allah iaitu hayyum, ‘alimun, qadirun, muridun, sami’un, basirun dan mutakallimun. Itulah syahadah!!!
Seperti ahli tahqiq menyatakan, “ Tukarlah cahaya dirimu itu dengan digantikan dengan cahaya Tuhannya”. Dan syahadah inilah yang terkandung di dalam 3 potong ayat iaitu;
1. Akulah Allah, tiada tuhan melainkan Aku
2. Maha suci Allah itu satu daripada tiga
3. Dan Allah menjadikan kamu dan setiap apa yang kamu lakukan
Setiap kejadian itu daripada Allah jua. Maka tidak zahir amanah itu melainkan dizahirkan manusia, kerana manusia itu sanggup menerima amanah.